Kamis, 31 Desember 2015

Makalah Manajemen Pendidikan (Bentuk-bentuk Actuating, Prinsip, Jenis (Komunikasi dan Koordinasi))

Bagi anda yang ingin mempunyai filenya, silahkan download!.

Baca Makalah Lain:



Makalah Sejarah Indonesia

Makalah Manajemen Pendidikan (Bentuk-bentuk Actuating, Prinsip, Jenis (Komunikasi dan Koordinasi))

Makalah Manajemen Pendidikan (Bentuk-bentuk Actuating, Prinsip, Jenis (Komunikasi dan Koordinasi))

BAB I
PENDAHULUAN

Masalah pendidikan di Indonesia, merupakan masalah yang harus mendapatkan perhatian khusus, karena pendidikan satu kegiatan yang sangat strategis dalam rangka mencerdaskan bangsa. Masaalah- masalah pendidikan sangatlah kompleks, tidak hanya masalah kualitas yang tidak dapat tercapai sebagai mana mestinya, namun juga berkaitan dengan masalah- masalah pengolahan atau menejemen.

Pengolahan sebuah lembaga pendidikan pada saat sekarang belum ditunjang oleh menejemen yang baik,sehingga mutu atau kualitas sekolah masih jauh dari yang diharapkan. Menejemen selain sebagai suatu ilmu juga merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan organisasi melalui pengarahan kepada kepada suatu kelompok tertentu untuk menyelenggarakan fungsi- fungsi menejemen,melalui dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan.

Didalam makalah ini akan membahas masalah penggerakan suatu menejemen dalam pendidikan. Penggerakan (Actuating) adalah  kegiatan menejemen untuk membuat orang lain suka dan dapat bekerja secara ikhlas serta bersemanagat untuk berkerjasama dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan rencana dan pengorganisasian. Penggerakan merupakan salah satu fungsi menejemen yang berhubungan dengan aktifitas menejerial dalam pelaksanaan tugas. Maka dari itu untuk lebih jelasnya kami akan membahas mengenai bentuk-bentuk actuating serta komunikasi dan koordinasi secara komprehensif.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Actuating

Di dalam menegemen pendidikan, ada beberapa pengertian ataupun istilah menurut beberapa ahli, di antaranya yaitu: 

Actuating diartikan sebagai penggerakan. Penggerakan adalah kegiatan menejemen untuk membuat orang lain suka dan dapat bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk berkerjasama dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan rencana dan pengorganisasian .
Terry (1977), mendefinisikan penggerakan sebagai tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok mau dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan organisasi dan tujuan para anggota yang menyebabkan para anggota mau untuk mencapai tujuan –tujuan tersebut. 
Syaiful Sagala mengatakan bahwa penggerakan adala usaha membujuk orang untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah di tentukan dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan institusi. 

B. Bentuk-bentuk Actuating, Prinsip, Jenis (Komunikasi dan Koordinasi)

Komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

- Adalah proses penyampaian atau penerimaan pesan dari satu orang kepada orang lain, baik langsung maupun tidak langsung, secara tertulis, lisan maupun bahasa isyarat. 
- Komunikasi adalah salah satu unsur kegiatan yang penting dalam organisasi. Komunikasi merupakan saraf dalam kehidupan organisai pendidikan komunikasi sebagai upaya untuk membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya mengerti dan memahami fungsi dan tugasnya masing-masing .

2. Bentuk-Bentuk Komunikasi yang efektif

Di dalam komunisa ada beberapa bentuk diantaranya adalah:
- Komunikasi tunggal timbal balik
- Komunikasi searah berantai
- Komunikasi Y
- Komunikasi O (Lingkaran)
- Komunikasi Roda
- Komunikasi segala arah 

3. Prinsip Komunikasi

Prinsip-prinsip komunikasi yang harus di lakukan komunikator antara lain:
- Penuh minat terhadap materi pesan
- Menarik perhatian bagi komunikan
- Di lengkapi alat peraga
- Menguasai materi pesan
- Mengulangi bagian yang penting
- Memiliki kegunaan
- Jangan menganggap bahwa setiap yang sudah mengerti pesan yang kita berikan (perlu umpan balik) 

  Kemudian prinsip komunikasi di dalam menegemen pendidikan di tinjau dari pendidikannya.

Prinsip-prinsip komunikasi dalam efektivitas pelaksanaan pendidikan

Orang yang masih hidup tidak mungkin akan lepas dari komunikasi walaupun bukan berarti semua perilaku adalah komunikasi, komunikasi ada dimana-mana: di rumah, di kampus, di kantor dan dimasjid; bahkan ia sanggup menyentuh segala aspek kehidupan kita. Artinya, hampir seluruh kegiatan manusia, dimanapun adanya, selalu tersentuh oleh komunikasi.

Bidang pendidikan misalnya, tidak bisa berjalan tanpa dukungan komunikasi, bahkan pendidikan hanya bisa berjalan melalui komunikasi , dengan kata lain, tidak ada perilaku pendidikan yang tidak dilahirkan oleh komunikasi. Bagaimana mungkin mendidik manusia tanpa berkomunikasi, mengajar orang tanpa berkomunikasi, atau memberi kuliyah tanpa berbicara. Semuanya membutuhkan komunikasi.

Disamping itu, komunikasi juga berfungsi mendidik masyarakat, mendidik setiap orang dalam menuju pencapaian kedewasaannya bermandiri. Seseorang biisa banyak tahu karena banyak mendengar, banyak membaca, dan banyak berkomunikasi.

Terdapat 10 prinsip komunikasi yang dikatakan sebagai penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakekat komunikasi yaitu : 

1. Komunikasi adalah suatu proses simbolik
Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkular dan tidak berakhir pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan.
2. Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.
3.   Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan
Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari dimensi isi tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimesi isi yang berbeda.
4.  Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaanSetiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja (pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap tujuannya tercapai)
5.   Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu 
      Pesan komunikasi yang dikirimkan  oleh pihak komunikan baik secara verbal maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan kapan komunikasi itu berlangsung.
6.   Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi.
7.   Komunikasi itu bersifat sistemik
Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi.
8 Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi
Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan.
9.   Komunikasi bersifat nonsekuensial
Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung satu arah. Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima dan dimengerti.
10. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling memberi dan menerima informasi diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi.

4. Jenis Komunikasi dalam pelaksanaan pendidikan

Kemunikasi merupakan cara untuk memudahkan atasan untuk menyampaikan sesuatu kepada bawahannya begitupun sebaliknya.oleh karena itu, kita membutuhkan komunikasi yang baik dalam pendidikan agar pelaksanan pendidikan dapat berjalan dengan baik. Untuk mencapai semua itu maka komunikasi dalam pelaksanaan pendidikan digolongkan dalam berbagai jenis yaitu:

1.   Komunikasi ke bawah dan ke atas

Komunikasi dari bawah keatas atau dari atas kebawah merupakan komunikasi yang di sampaikan oleh atasan ke bawahan atau bawahan ke atasan. Komunikasi yang disampaikan oleh atasan kebawahannya biasnya berupa perintah-perintah atau intruksi-intruksi sedangkan dari bawahan keatasan biasanya berupasaran-saran atau keluhan mengenai pelaksanaan pendidikan.

2.   Komunikasi formal dan informal

Komunikasi formal, yaitu komunikasi yang disampaikan dengan menggunakan saluran-saluran yang telah ada seperti rapat, sedangkan komunikasi informal merupakan komunikasi yang diadakan karena adanya kepentingan-kepentingan perorang atau kelompok.

3.   Komunikasih lisan dan tertulis

Komunikasi dalam bentuk lisan biasanya dilakukan jika komunikasi tersebut penting dan dianggap pribadi, sedangkan komunikasi tertulis merupakan komunikasi yang disampaikan dalam bentuk surat yang berisiakan hal-hal yang penting mengenai pelaksanaan pendidikan denagn menggunakan bahasa yang resmi.

Koordinasi

Pengertian Koordinasi

Kordinasi bersal dari bahasa latin, yakni cum yang berarti berbeda- beda, dan ordinare yang berarti penyusunan atau penempatan sesuatu pada keharusannya.dalam menejemen berbasis sekolah , kordinasi berkaitan dengan penempatan berbagai kegiatan yang berbeda – beda pada keharusan tertentu, sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya melalui proses yang tidak membosankan.pengorganisasian merupakan upaya untuk menyelaraskan satuan- satuan ,pekerjaan- pekerjaan , dan orang- orang agar dapat berkerja secara tertib dan seirama menuju kearah tercapainya tujuan tanpa terjadi kekacauan(chaos), penyimpangan, percecokan dan kekosongan kerja (vaccum).Pada hakikatnya kordinasi merupakan proses penyatubuhan sasaran- sasaran dan kegiatan yang dilakukan pegawai dan berbagai satuan lembaga sehingga dapat berjalan selaras dan serasi. 

Prinsip- prinsip kordinasi :

a. Kordinasi harus dimulai dari tahap perencanaan awal.
b. Hal pertama yangharus diperhatikan dalam kordinasi adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi kepentingan bersama.
c. Kordinasi merupakan prosesyang terumenerus dan berkesinambungan. 
d. Kordinasi merupakan pertemuan- pertemuan bersama untuk mencapai tujuan.
e. Perbedaan pendapat harus diakui sebagai pengayaan dan harus dikemukakan secara terbuka dan diselidiki dalam kaitannya dengan situasi secara keseluruhan.

Jenis-jenis Koordinasi

    Koordinasi kegiatan managemen pendidikan dapat di bagi atas tiga jenis: vertikal, fungsional, institusional
a. Koordinasi Vertikal 
Ialah koordinasi yang di lakukan oleh kepala sekolah kepada atasannya dan atau kepada bawahan.
b. Koordinasi Fungsional
Ialah koordinasi yang dilakukan oleh kepala sekolah dengan kepala sekolah lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasarkan asas fungsionalisasi. Koordinasi fungsional di bedakan atas koordinasi fungsional horizontal, diagonal, teritorial, institusional.
c. Koordinasi Institusioanl
Di dalam koordinasi ini di lakukan kepala sekolah dengan beberapa instansi yang menangani satu urusan tertentu yang bersangkutan.

C. Konsep dan Implementasi Penggerakan (Actuating) 

Dalam menjalankan program pendidikan, prinsip yang harus disertakan adalah berkelanjutan, artinya proses pendidikan harus terus-menerus dijalankan dari generasi ke generasi berikutnya. Hal ini tidak terlepas dari konsep pendidikan seumur hidup. Untuk itu diperlukan suatu manajemen perencanaan yang terukur dan terarah di bidang pendidikan. Perencanaan sumber daya manusia memfokuskan perhatian pada langkah-langkah tertentu yang diambil oleh manajemen guna lebih menjamin bahwa dalam organisasi tersedia tenaga kerja yang tepat untuk menduduki berbagai kedudukan, jabatan dan pekerjaan yang tepat pada waktu yang tepat, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran yang telah dan akan ditetapkan (Taqiyuddin : 2006). 

Menurut catatan Sukardika (2001), kualitas pendidikan Indonesia sampai saat ini berada pada posisi bawah bila dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia, Philipina, Singapura, bahkan dengan Vetnam sekalipun. Hal ini dapat dipahami mengingat salah satu penyebabnya adalah bahwa perencanaan pendidikan saat ini belum ditunjang oleh data dan informasi yang memadai. 

Perencanaan yang baik hanya dapat terwujud apabila didukung dengan data dan informasiyang cepat, tepat dan akurat. Sebagai bagian dari manajemen, langkah perencanaan sangatlah penting, apalagi bidang yang direncanakan adalah bidang yang sangat subtansial yaitu pendidikan, yang merupakan langkah awal dalam pembentukan kerangka sumber daya manusia. Dari pandangan ini, berarti diperlukan perencanaan terpadu secara horizontal [antarsektor] dan vertikal [antar jenjang – bottom-up dan top-down planning],

Pendidikan harus berorientasi pada peserta didik dan pendidikan harus bersifat multikultural serta pendidikan dengan perspektif global”(Fasli Jalal dalam Sanaky: 2003) Sejalan dengan perkembangan kemajuan teknologi, khususnya di bidang informasi, perencanaan bidang pendidikan juga harus mengantisipasi perubahan kondisi seperti saat sekarang ini. Jadi perencanaan pendidikan harus lebih kreatif dalam beradaptasi dan berkembang sesuai dengan improvisasi yang tepat. Pendidikan selalu dituntut untuk cepat tanggap atas perubahan yang terjadi dan melakukan upaya yang tepat secara normatif sesuai dengan cita-cita masyarakat madani Indonesia. Maka, pendidikan selalu bersifat progresif tidak resisten terhadap perubahan, sehingga mampu mengendalikan dan mengantisipasi arah perubahan (Sanaky : 2003). 


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Actuating diartikan sebagai penggerakan. Penggerakan adalah kegiatan menejemen untuk membuat orang lain suka dan dapat bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk berkerjasama dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan rencana dan pengorganisasian.

Bentuk-Bentuk Komunikasi yang efektif

Di dalam komunisa ada beberapa bentuk diantaranya adalah:
Komunikasi tunggal timbal balik
Komunikasi searah berantai
Komunikasi Y
Komunikasi O (Lingkaran)
Komunikasi Roda
Komunikasi segala arah

Jenis Komunikasi dalam pelaksanaan pendidikan

1. Komunikasi ke bawah dan ke atas
2. Komunikasi formal dan informal
3. Komunikasih lisan dan tertulis
4. Pengertian Koordinasi

Kordinasi bersal dari bahasa latin, yakni cum yang berarti berbeda- beda, dan ordinare yang berarti penyusunan atau penempatan sesuatu pada keharusannya.dalam menejemen berbasis sekolah , kordinasi berkaitan dengan penempatan berbagai kegiatan yang berbeda – beda pada keharusan tertentu, sesuai dengan aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan dengan sebaik- baiknya melalui proses yang tidak membosankan.pengorganisasian merupakan upaya untuk menyelaraskan satuan- satuan ,pekerjaan- pekerjaan , dan orang- orang agar dapat berkerja secara tertib dan seirama menuju kearah tercapainya tujuan tanpa terjadi kekacauan(chaos), penyimpangan. Pada hakikatnya kordinasi merupakan proses penyatubuhan sasaran- sasaran dan kegiatan yang dilakukan pegawai dan berbagai satuan lembaga sehingga dapat berjalan selaras dan seras.

Daftar Pustaka

Kurniatin, Didin. dkk. 2012. MANAGEMEN PENDIDIKAN: Konsep dan Prinsip 
Pengelolaan Pendidikan. Yogyakarta: AR.RUZZ MEDIA
Mulyasa. 2002. MANAGEMEN BERBASIS SEKOLAH (konsep, strategi, dan 
implementasi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rohiat. 2008. MANAGEMEN SEKOLAH-Teori Dasar dan praktik. Bandung: 
PT Refika Aditama.
Usman, Husaini. 2006. MANAGEMEN Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. 
Jakarta: PT Bumi Angkasa.
Yusuf Musfirotun. 2012. MANAGEMEN PENDIDIKAN (Sebuah pengantar). 
Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.
http://simpangmahar.blogspot.com/2010/05/konsep-perencanaan-pendidikan.html



Senin, 28 Desember 2015

Makalah Metodologi Studi Islam (Pengertian etodologi Studi Islam)

Bagi anda yang ingin mempunyai filenya, silahkan download!.


Baca Makalah Lain:




Makalah Metodologi Studi Islam (Pengertian Metodologi Studi Islam)

Makalah Metodologi Studi Islam (Pengertian Metodologi Studi Islam)

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Pada awal tahun 1970-an berbicara mengenai penelitian agama dianggap tabu. Orang akan berkata : kenapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti ; agama adalah wahyu Allah. Sikap serupa terjadi di Barat. Dalam pendahuluan buku Seven Theories Of Religion dikatakan, dahulu orang Eropa menolak anggapan adanya kemungkinan meniliti agama. Sebab, antara ilmu dan nilai, antara ilmu dan agama ( kepercayaan ), tidak bisa disinkronkan. 

Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya, Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, egaliter, kemitraan, anti-feodalistik, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.

2.      Rumusan Masalah

A.    Apa pengertian metodologi studi islam?
B.     Apa saja ruang lingkup metodologi studi islam?




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian metodologi

Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta (sepanjang), hodos (jalan). Jadi, metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang di tempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau penelitian.

Menurut istilah“metodologi” berasal dari bahasa yunani yakni metodhos dan logos, methodos berarti cara, kiat dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya menyelsaikan sesuatu, sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala dan wawasan. Dengan demikian metodologi adalah metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian. 

Metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu, metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting dari filsafat, sains, atau hanya mempunyai bakat. 

Cara dan prosedur untuk memperoleh pengetahuan dapat ditentukan berdasarkan disiplin ilmu yang dikajinya, oleh karena itu dalam menentukan disiplin ilmu kita harus menentukan metode yang relevan dengan disiplin  itu, masalah yang dihadapi dalam proses verivikasi ini adalah bagaimana prosedur kajian dan cara dalam pengumpulsn dan analisis data agar kesimpulan yang ditarik memenuhi persyaratan berfikir induktif. Penetapan prosedur kajian dan cara ini disebut metodologi kajian atau metodologi penelitian.

Selain itu metodelogi adalah pengetahuan tentang metode-metode, jadi metode penelitian adalah  pengetahuan tentang berbagai metode yang digunakan dalam penelitian.  Louay safi mendefinisaikan metodologi sebagai bidang peenelitian ilmiah yang berhubungan dengan pembahasan tentang metode-metode yang digunakan dalam mengkaji fenomena alam dan manusia atau dengan kata lain metodologi adalah bidang penelitian ilmiah yang membenarkan, mendeskripsikan dan menjelaskan aturan-aturan, prosedur-prosedur sebagai metode ilmiah. 

Ketika metode digabungkan dengan kata logos maknanya berubah. Logos berarti “studi tentang” atau “teori tentang”. Oleh karena itu, metodologi tidak lagi sekedar kumpulan cara yang sudah diterima(well received) tetapi berupa berupa kajian tentang metode. Dalam metodologi dibicarakan kajian tentang cara kerja ilmu pengetahuan. Pendek kata, bila dalam metode tidak ada perbedaan, refleksi dan kajian atas cara kerja ilmu pengetahuan, sebaliknya dalam metodologi terbuka luas untuk mengkaji, mendebat, dan merefleksi cara kerja suatu ilmu. Maka dari itu, metodologi menjadi menjadi bagian dari sistematika filsafat, sedangkan metode tidak.

Metodologi adalah ilmu cara- cara dan langkah- langkah yang tepat ( untuk menganalisa sesuatu) penjelasan serta menerapkan cara
Istilah metodologi studi islam digunakan ketika seorang ingin membahas kajian- kajian seputar ragam metode yang biasa digunakan dalam studi islam. Sebut saja misalnya kajian atas metode normative, historis, filosofis, komparatif dan lain sebagainya. Metodologi studi islam mengenal metode- metode itu sebatas teoritis. Seseorang yang mempelajarinya juga belum menggunakannya dalam praktik. Ia masih dalam tahap mempelajari secara teoritis bukan praktis.

B. Ruang lingkup studi Islam

Pembahasan kajian keislaman mengikuti wawasan dan keahlian para pengkajinya, sehingga terkesan ada nuansa kajian mengikuti selera pengkajinya, secara material, ruang lingkup studi islam dalam tradisi sarjana barat, meliputi pembahasan mengenai ajaran, doktrin, teks sejarah dan instusi-instusi keislaman pada awalnya ketertarikan sarjana barat terhadap pemikiran islam lebih karena kebutuhan akan penguasaan daerah koloni. Mengingat daerah koloni pada umumnya adalah Negara Negara yang banyak didomisili warga Negara yang beragama islam, sehingga mau tidak mau mereka harus faham budaya lokal. Kasus ini dapat dilihat pada perang aceh sarjana belanda telah mempelajari islam terlebih dahulu sebelum diterjunkan dilokasi deengan asumsi ia telah memahami budaya dan peradapan massyarakat aceh yang mayoritas beragama islam.

Islam dipahami dari sisi ajaran, doktrin dan pemahaman masyarakat debngan asumsi dapat diketahui tradisi dan kekuatan masyarakat setempat. Setaelah itu pemahaman yang telah menjadi input bagi kaum orentalis diambil sebagai dasar kebijakan oleh penguasa colonial yang tentunya lebih menguntungkan mereka ketimbang rakyat banyak diwilayah jajahanya. Hasil studi ini sesungguhnya lebih menguntungkan kaum penjajah tatas dasar masukan ini para penjajah colonial dapat mengambil kebijakan didaerah koloni dengan mempertimbangkan budaya lokal. Atas masukkan ini, para penjajah mampu membuat  kekuatan social, masyarakat terjajah sesuai dengan kepentingan dan keutunganya. Setelah mengalami keterpurukan, dunia islam mulai bangkit memalui para pembaru yang telah dicerahkan. Dari kelompok ini munculah gagasan agar umat islam mengejar ketertinggalanya dari umat lain.

 Agama sebagai obyek studi minimal dapat dilihat dari segi sisi:

1.      Agama Sebagai doktrin dari Tuhan

Agama Sebagai doktrin dari Tuhan yang sebenarnya bagi para pemeluknya sudah  final dalam arti absolute, dan diterima apa adanya.  Kata doktrin berasal dari bahasa inggris doctrine yang berarti ajaran. Dari kata doctrine itu kemudian dibentuk kata doktina;, yang berarti yang berkenaan dengan ajaran atau bersifat ajaran.

Selain kata doctrine sebgaimana disebut diatas, terdapat kata doctrinaireyang berarti yang bersifat teoritis yang tidak praktis. Contoh dalam hal ini misalnya doctrainare ideas ini berrati gagasan yang tidak praktis.

Studi doktinal ini berarti studi yang berkenaan dengan ajaran atau studi tentang sesuatu yang bersifat teoritis dalam arti tidak praktis. Mengapa tidak praktis? Jawabannya adalah karena ajaran itu belum menjadi sesuatu bagi seseorang yang dijadikan dasar dalam berbuat atau mengerjakan sesuatu.

Uraian ini berkenaan dengan Islam sebagai sasaran atau obyek studi doctrinal tersebut. Ini berarti dalam studi doctrinal kali yang di maksud adalah studi tentang ajaran Islam atau studi Islam dari sisi teori-teori yang dikemukakan oleh Islam.

Islam di definisikan oleh sebagian ulama sebagai berikut: “al-Islamu wahyun ilahiyun unzila ila nabiyyi Muhammadin Sallahu`alaihi wasallam lisa`adati al-dunya wa al-akhirah” (Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat).  

Berdasarkan pada definisi Islam sebagaimana di kemukakan di atas, maka inti dari Islam adalah wahyu. Sedangkan wahyu yang dimaksud di atas adalah al-Qur`an dan al-Sunnah. Al-Qur`an yang kita sekarang dalam bentuk mushaf yang terdiri tiga puluh juz, mulai dari surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah al-Nas, yang jumlahnya 114 surah.

Sedangkan al-Sunnah telah terkodifikasi sejak tahun tiga ratus hijrah. Sekarang ini kalau kita ingin lihat al-Sunnah atau al-Hadist, kita dapat lihat di berbagai kitab hadist. Misalnya kitab hadist Muslim yang disusun oleh Imam Muslim, kitab hadist Shaleh Bukhari yang ditulis Imam al-Bukhari, dan lain-lain.

Dari kedua sumber itulah, al-Qur`an dan al-Sunnah, ajaran Islam diambil. Namun meski kita mempunyai dua sumber, sebagaimana disebut diatas, ternyata dalam realitasnya, ajaran Islam yang digali dari dua sumber tersebut memerlukan keterlibatan tersebut dalam bentuk ijtihad.

Dengan ijtihad ini, maka ajaran berkembang. Karena ajaran Islam yang ada di dalam dua sumber tersebut ada yang tidak terperinci, banyak yang diajarkan secara garis besar atau global. Masalah-masalah yang berkembang kemudian yang tidak secara terang disebut di dalam dua sumber itu di dapatkan dengan cara ijtihad.

Dengan demikian, maka ajaran Islam selain termaktub pula di dalam penjelasan atau tafsiran-tafsiran para ulama melalui ijtihad itu.

Hasil ijtihad selama tersebar dalam semua bidang, bidang yang lain. Semua itu dalam bentuk buku-buku atau kitab-kitab, ada kitab fiqih, itab ilmu kalam, kitab akhlaq, dan lain-lain.

Sampai disini jelaslah, bahwa ternyata ajaran Islam itu selain langsung diambil dari al-Qur`an dan al-Sunnah, ada yang diambil melalui ijtihad. Bahkan kalau persoalan hidup ini berkembang dan ijtihad terus dilakukan untuk mencari jawaban agama Islam terhadap persoalan hidup yang belum jelas jawabannya di dalam suatu sumber yang pertama itu. Maka ajaran yang diambil dari ijtihad ini semakin banyak.

Studi Islam dari sisi doctrinal itu kemudian menjadi sangat luas, yaitu studi tentang ajaran Islam baik yang ada di dalam al-Qur`an maupun yang ada di dalam al-Sunnah serta ada yang menjadi penjelasan kedua sember tersebut dengan melalui ijtihad.

Jadi sasaran studi Islam doctrinal ini sangat luas. Persoalannya adalah apa yang kemudian di pelajari dari sumber ajaran Islam itu.

2.        Sebagai gejala budaya

yang berarti seluruh yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.   Pada awalnya ilmu hanya ada dua Suatu penemuan yang dihasilkan seseorang pada suaktu-waktu mengenai suatu gejala sifat alam.

Agama merupakan kenyataan yang dapat dihayati. Sebagai kenyataan, berbagai aspek perwujudan agama bermacam-macam, tergantung pada aspek yang dijadikan sasaran studi dan tujuan yang hendak dicapai oleh orang yang melakukan studi.

Cara-cara pendekatan dalam mempelajari agama dapat dibagi ke dalam dua golongan besar, yaitu model studi ilmu-ilmu social dan model studi budaya.

Tujuan mempelajari agama Islam juga dapat dikategorikan ke dalam dua macam, yang pertama, untuk mengetahui, memahami, menghayati dan mengamalkan. Kedua, untuk obyek penelitian. Artinya, kalau yang pertama berlaku khusus bagi umat Islam saja, baik yang masih awam, atau yang sudah sarjana. Akan tetapi yang kedua berlaku umum bagi siapa saja, termasuk sarjana-sarjana bukan Isalam, yaitu memahami. Akan tetapi realitasnya ada yang sekedar sebagai obyek penelitian saja.

Untuk memahami suatu agama, khususnya Islam memang harus melalui dua model, yaitu tekstual dan konstektual. Tekstual, artinya memahami Islam melalui wahyu yang berupa kitab suci. Sedangkan kontekstual berarti memahami Islam lewat realitas social, yang berupa perilaku masyarakat yang memeluk agama bersangkutan.

Studi budaya di selenggarakan dengan penggunaan cara-cara penelitian yang diatur oleh aturan-aturan kebudayaan yang bersangkutan.

Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai mahkluk social yang isinya adalah perangkat-perangkat model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterprestasi lingkungan yang di hadapi, dan untuk mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukan.

Islam merupakan agama yang diwahyukan Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad SAW.sebagai jalan hidup untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Agama islam disebut juga agama samawi . selain agama Islam, Yahudi dan Nasrani juga termasuk ke dalam kategori agama samawi. Sebab keduanya merupakan agama wahyu yang diterima Nabi Musa dab Nabi Isa sebagai utusan Allah yang menerima pewahyuan agama Yahudi dan Nasrani.

Agama wahyu bukan merupakan bagian dari kebudayaan. Demikian pendapat Endang Saifuddin Anshari yang mengatakan dalam suatu tulisannya bahwa:

“agama samawi dan kebudayaan tidak saling mencakup; pada prinsipnya yang satu tidak merupakan bagian dari yang lainnya; masing-masing berdiri sendiri. Antara keduanya tentu saja dapat saling hubungan dengan erat seperti kita saksikan dalam kehidupan dan penghidupan manusia sehari-hari. Sebagaimana pula terlihat dalam hubungan erat antara suami dan istri, yang dapat melahirkan putra, namun suami bukan merupakan bagian dari si istri, demikian pula sebaliknya.

Atas dasar pandangan di atas, maka agama Islam sebagai agama samawi bukan merupakan bagian dari kebudayaan (Islam), demikian pula sebaliknya kebudayaan Islam bukan merupakan bagian dari agama Islam. Masing-masing berdiri sendiri, namun terdapat kaitan erat antara keduanya. Menurut Faisal Ismail, hubungan erat itu adalah bahwa Islam merupakan dasar, asas pengendali, pemberi arah, dan sekaligus merupakan sumber nilai-nilai budaya dalam pengembangan dan perkembangan cultural. Agama (Islam)lah yang menjadi pengawal, pembimbing, dan pelestari seluruh rangsangan dan gerak budaya, sehingga ia menjadi kebudayaan yang bercorak dan beridentitas Islam.

Lebih jauh Faisal menjelaskan bahwa walaupun memiliki keterkaitan, Islam dan kebudayaan merupakan dua entitas yang berbeda, sehingga keduanya bisa dilihat dengan jelas dan tegas. Shalat misalnya adalah unsure (ajaran) agama, selain berfungsi untuk melestarikan hubungan manusia dengan Tuhan, juga dapat melestarikan hubungan manusia dengan manusia juga menjadi pendorong dan penggerak bagi terciptanya kebudayaan. Untuk tempat sholat orang membangun masjid dengan gaya arsitektur yang megah dan indah, membuat sajadah alas untuk bersujud dengan berbagai disain, membuat tutup kepala, pakaian, dan lain-lain. Itulah yang termasuk aspek kebudayaan.

Proses interaksi Islam dengan budaya dapat terjadi dalam dua kemungkinan.Pertama adalah Islam mewarnai, mengubah, mengolah, an memperbaharui budaya. Kedua, justru Islam yang diwarnai oleh kebudayaan. Masalahnya adalah tergantung dari kekuatan dari  dua entitas kebudayaan atau entitas keislaman. Jika entitas kebudayaan yang kuat maka akan muncul muatan-muatan local dalam agama, seperti Islam Jawa. Sebaliknya, jika entitas Islam yang kuat mempengaruhi budaya maka akan muncul kebudayaan Islam.

Agama sebagai budaya, juga dapat diihat sebagai mekanisme control, karena agama adalah pranata social dan gejala social, yang berfungsi sebagai kontro, terhadap institus-institus yang ada.

Dalam kebudayaan dan peradaban dikenal umat Islam berpegang pada kaidah: Al-Muhafadhatu ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al jaded alashlah, artinya: memelihara pada produk budaya lama yang baik dan mengambil produk budaya baru yang lebih baik.

Oleh karena itu, dapat di simpulkan bahwa hasil pemikiran manusia yang berupa interprestasi terhadap teks suci itu disebut kebudayaan, maka sisitem pertahanan Islam, system keuangan Islam, dan sebagainya yang timbul sebagai hasil pemikiran manusia adalah kebudayaan pula. Kalaupun ada perbedaannya dengan kebudayaan biasa, maka perbedaan itu terletak pada keadaan institusi-institusi kemasyarakatan dalam Islam, yang disusun atas dasar prinsip-prinsip yang tersebut dalam al-Qur`an.


3.        Sebagai interaksi social

yaitu realitas umat Islam.Bila islam dilihat dari tiga sisi, maka ruang lingkup studi islam dapat dibatasi pada tiga sisi tersebut. Oleh karena sisi doktrin merupakan suatu keyakinan atas kebenaran teks wahyu, maka hal ini tidak memerlukan penelitian didalamnya.

Melalui pendekatan antropologi hubungan agama dengan berbagai masalh kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama terlihat akrab dan fungsional dan berbagai fenomena kehidupan manusia. 

Islam sebagai sasaran studi social ini dimaksudkan sebagai studi tentang Islam sebagai gejala social. Hal ini menyangkut keadaan masyarakat penganut agama lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala social lainnya yang saling berkaitan.

Dengan demikian yang menjadi obyek dalam kaitan dengan Islam sebagai sasaran studi social adalah Islam yang telah menggejala atau yang sudah menjadi fenomena Islam. Yang menjadi fenomena adalah Islam yang sudah menjadi dasar dari sebuah perilaku dari para pemeluknya.

M. Atho Mudzhar, menulis dalam bukunya, pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, bahwa ada lima bentuk gejala agama yang perlu diperhatikan dalam mempelajari atau menstudi suatu agama. Pertama, scripture atau naskah-naskah atau sumber ajaran dan symbol-simbol agama. Kedua, para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yaitu yang berkenaan dengan perilaku dan penghayatan para penganutnya. Ketiga, ritus-ritus, lembaga-lembaga dan ibadat-ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris. Keempat, alat-alat, organisasi-organisasi keagamaan tempat penganut agama berkumpul, seperti NU dan lain-lain. 

Masih menurut M. Atho Mudzhar, agama sebagai gejala social, pada dasarnya bertumpu pada konsep sosiologi agama. Sosiologi agama mempelajari hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat. Masyarakat mempengaruhi agam, dan agama mempengaruhi masyarakat. Tetapi menurutnya, sosiologi sekarang ini mempelajari bukan masalah timbale balik itu, melainkan lebih kepada pengaruh agama terhadap tingkah laku masyarakat. Bagaimana agama sebagai system nlai mempengaruhi masyarakat.

Meskipun kecenderungan sosiologi agama. Beliau member contoh teologi yang dibangun oleh orang-orang syi`ah, orang-orang khawarij, orang-orang ahli al-Sunnah wa al-jannah dan lain-lain. Teologi-teologi yang dibangun oleh para penganut masing-masing itu tidak lepas dari pengaruh pergeseran perkembangan masyarakat terhadap agama.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana lita melihat masalah Islam sebagai sasaran studi social. Dalam menjawab persoalan ini tentu kita berangkat dari penggunaan ilmu yang dekat dengan ilmu kealaman, karena sesungguhnya peristiwa-peristiwa yang terjadi mengalami keterulangan yang hampir sama atau dekat dengan ilmu kealaman, oleh karena itu dapat diuji.

jadi dengan demikian metodologi studi Islam dengan mengadakan penelitian social. Penelitian social berada diantara ilmu budaya mencoba memahami gejala-gejala yang tidak berulang tetapi dengan cara memahami keterulangan.

Sedangkan ilmu kealaman itu sendiri paradigmanya positivism. Paragdima positivism dalam ilmu ini adalah sesuatu itu baru dianggap sebagai ilmu kalau dapat dimati (observable), dapat diukur (measurable), dan dapat dibuktikan (verifiable). Sedangkan ilmu budaya hanya dapat diamati. Kadang-kadang tidak dapat diukur atau diverifikasi. Sedangkan ilmu social yang diangap dekat dengan ilmu kealaman berarti juga dapat diamati, diukur, dan diverifikasi.

Melihat uraian di atas, maka jika Islam dijadikan sebagai sasaran studi social, maka harus mengikuti paragdima positivism itu, yaitu dapat diamati gejalanya, dapat diukur, dan dapat diverifikasi.

Hanya saja sekarang ini juga berkembang penelitian kualitatif yang tidak menggunakan paragdima positivisme. Ini berarti ilmu social itu dianggap tidak dekat kepada ilmu kealaman. Jika halnya demikian, maka berarti dekat kepada ilmu budaya ini berarti sifatnya unik.

Lima hal sebagai gejala agama yang telah disebut di atas kemudian dapat dijadikan obyek dari kajian Islam dengan menggunakan pendekatan ilmu social sebagaimana juga telah dungkap diatas.

Masalahnya tokoh agama Islam, penganut agama Islam, interaksi antar umat beragama, dan lain-lain dapat diangkat menjadi sasaran studi Islam.


DAFTAR PUSTAKA


Abdul Rozak, Metodologi Studi Islam, Bandung : Pustaka Setia , 2008
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Pres, 2012 
Atho Mudzahar, Pendekatan Studi Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar , 2007 
Mukti Ali, Metodologi Memahami Agama Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1991 
http://elsya2389.blogspot.com/2012/04/metodologi-studi-islam-pengertian-ruang.html 



Makalah Hadis Tarbawi (Pendidik Mengajar Disaat Peserta Didik Dalam Kondisi Siap Menerima Materi)

Bagi anda yang ingin mempunyai filenya, silahkan download!.


Baca Makalah Lain:



Makalah Hadis Tarbawi (Pendidik Mengajar Disaat Peserta Didik Dalam Kondisi Siap Menerima Materi)

Makalah Hadis Tarbawi (Pendidik Mengajar Disaat Peserta Didik Dalam Kondisi Siap Menerima Materi)

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagai seorang pendidik yang professional hendaknya pendidik mengetahui permasalahan - permasalahan yang di hadapi oleh peserta didik. Banyak permasalahan yang di hadapi oleh peserta didik diantaranya kebosanan. Kebosanan atau kejenuhan biasanya dialami oleh para peserta didik di akibatkan karena metode atau cara -  cara yang diterapkan oleh pendidik bersifat monoton dan kurang menarik biasanya. Banyak peserta didik dipaksa menerima materi walaupun keadan psikologi mereka sudah tidak mampu menerima materi lagi. 

Oleh karena itu pendidik diharapkan mampu memahami keadaan peserta didiknya di saat akan memberikan materi kepada peserta didik, perlu adanya komunikasi yang efektif sehingga pemberian materi tidak hilang begitu saja. 

Dalam makalah ini akan di jelaskan hadits - hadits yang berhubungan dengan pendidik mengajar disaat peserta didik dalam kondisi siap menerima materi, serta tekhnik - tekhnik dalam mendidik jika peserta didik sudah merasa bosan atau tidak tenang lagi. Di harapkan dengan adanya makalah ini kita sebagai pendidik bias menjadi pendidik yang professional, sehingga tidak menimbulkan efek negative bagi peserta didik.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Hadits Terkait

1) Peserta didik dalam kondisi tenang

عن جرير أن النبي صلئ الله عليه وسلم قال له في حجة الوداع استنصت الناس فقال لاترجعوا بعدي كفارا يضرب بعضكم رقاب بعض. ( أخرجه البخرئ فئ صحيحه كتاب العم باب الانصات للعلماء)

Terjemahan :

Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah RA, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada para sahabatnya pada saat haji Wada (haji  pengabisan atau perpisahan) Nabi SAW,  Tolong suruh mereka memperhatikan (danmendengarkan) kemudian Rosulullah SAW bersabda ditujukan kepada mereka janganlah menjadi kafir setelah kepergianku dengan saling berbunuhan satu sama lain.


Terjemahan :
Diriwayatkan dari Usamah bin Syarik berkata, saya datang ke Rasulullah SAW maka ketika itu para sahabatnya dan lingkungannya (sekitarnya) seolah – seolah seperti burung berada di atas kepala mereka.



2) Peserta didik tidak dalam kondisi jenuh

عن ابن مسعود قال كان النبي صلئ الله عليه وسلم يتخولنا بالموعظة في الايام كراهة السامة علينا (أخرجه البرئ في صحيحه كتاب العلم )

Terjemahan :
Dari Ibnu Masud bahwa Nabi SAW selalu memilih waktu yang tepat untuk memberikan nasihat, karena beliau takut kami akan merasa bosan. 


B. Peserta didik dalam kondisi tenang

Seorang pendidik ketika mengajar di dalam kelas tentu kerap menemui kendala. Salah satu kendala yang sering dijumpai ialah siswa yang ribut. Mereka tak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru di depan. Mereka sibuk sendiri. Biasanya mereka berbicara dengan teman yang ada di kanan dan kiri. Biasanya pula mereka bermain suatu permainan.

Untuk itu, seorang pendidik perlu menguasai teknik penanganan siswa yang ribut. Berikut ini beberapa hal yang dapat di terapkan :

a. Minta mereka menyimpan mainan yang tak berhubungan dengan materi pembelajaran di dalam tas. Lalu, minta mereka menyiapkan buku pelajaran.
b. Pada awal pembelajaran, berikanlah games menarik kepada anak didik. Misalnya : bertepuk tangan, tebak-tebakan, bernyanyi bersama, bercerita, kuis berhadiah dll.
c. Buatlah materi pembelajaran yang menarik bagi anak. Buatlah suasana yang menggembirakan siswa saat menerima pelajaran. Jangan tegang saat mengajar. Gunakan intonasi suara yang menarik perhatian.
d. Jika siswa masih saja ribut maka cobalah perhatikan apa yang sedang mereka bicarakan. Lalu, masuklah dalam pembicaraan itu. Namun, sebentar saja.
e. Berikan konsekuensi atas sebuah kesalahan. Misalnya jika ada anak yang ribut maka minta mereka menghafal pelajaran sambil berdiri di depan kelas. Beri hukuman yang mendidik. Jangan hukum mereka secara fisik.
f. Hindari mengendalikan kelas dengan cara marah-marah, membentak murid, memukul papan tulis dan berteriak. Itu semua hanya menimbulkan ketegangan dan ketakutan yang tidak baik untuk suasana belajar.
g. Evaluasi hal-hal berikut ini : metode yang digunakan tidak tepat, materi yang terlalu sulit, komunikasi yang cenderung monoton, tidak menginspirasi, atau karena guru tak menggunakan media pembelajaran yang sesuai. 


C. Peserta didik tidak dalam kondisi jenuh

Dalam suatu pendidikan ada beberapa cara agar proses belajar itu sendiri tidak membosankan bagi siswa :

a. Pemilihan metode yang tepat, guru sebagai pendidik diwajibkan memilih metode yang tepat. Di usahakan metode yang di terapkan dapat membuat siswa menjadi lebih aktif sehingga proses belajar-mengajar tidak membosankan bagi siswa.
b. Pemilihan media yang tepat, guru sebagai pendidik di usahakan sebisa mungkin memikirkan media apa yang cocok untuk digunakan pada proses belajar-mengajar. Tujuan dari penggunaan media sendiri adalah agar siswa dapat menyerap pelajaran yang di ajarkan secara aktual tanpa merasa jenuh serta ikut bereksperimen.
c. Mengadakan simulasi-simulasi, hal ini diperlukan di tengah-tengah proses beajar-mengajar. Pilihlah simulasi yang bisa membangkitkan semangat siswa ketika belajar.
d. Lakukan kegiatan belajar-mengajar di OUTDOOR, jangan hanya melakukakan proses belajar-mengajar di ruang kelas, manfaatkan lokasi yang ada. Cobalah sesekali melakukan proses belajar-mengajar di luar kelas agar siswa tidak merasa jenuh dengan suasana kelas.
e. Pendekatan terhadap siswa, guru sebagai pendidik diharapkan melakukan pendekatan terhadap siswa agar siswa tidak merasa sungkan untuk bertanya. Hal tersebut akan membuat siswa menjadi lebih aktif. 

Untuk pembelajar auditory, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui pendengaran, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah :

1. Saat belajar, biarkan mereka membaca dengan suara keras, namun tidak menimbulkan keributan.
2. Seringlah memberi pertanyaan kepada anak didik.
3. Membuat diskusi kelas.
4. Gunakan audio dalam pembelajaran (musik, radio, dll)
5. Belajar berkelompok. 

Untuk pembelajar visual, di mana lebih banyak menyerap informasi melalui mata, hal-hal yang bisa pendidik lakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar anak didik adalah :

1. Biarkan mereka duduk di bangku paling depan, sehingga mereka bisa langsung melihat apa yang dituliskan atau digambarkan guru di papan tulis.
2. Selain tulisan, buatlah lebih banyak bagan-bagan, diagram
3. Putarkan film.
4. Gunakan warna-warni yang berbeda pada tulisan.
5. Minta mereka untuk menuliskan poin-poin penting yang harus dihapalkan. 


D. Makna Tarbawi

1. Bahwa kita sebagai pendidik harus mengetahui keadaan kelas secara tepat disaat menyampaikan materi. Bila kondisi kelas dalam keadaan ribut dan tidak tenang, maka jangan memaksakan menyampaikan materi. Di takutkan materi yang telah di sampaikan tidak dapat di terima dengan baik oleh peserta didik.
2. Kita selaku pendidik harus mengerti kondisi psikologis serta mental peserta didik, hal ini berfungsi juga sebagai indikator tingkat kemampuan peserta didik menerima materi secara penuh. Dengan mengetahui psikologis peserta didik kita akan mengerti apakah metode pembelajaran yang kita terapkan membosankan atau tidak.
3. Jadi, intinya bahwa pendidik HARUS mengajar atau mendidik dalam kondisi siap menerima materi. 


BAB III
KESIMPULAN


Peserta didik dalam kondisi tenang

Seorang pendidik ketika mengajar di dalam kelas tentu kerap menemui kendala. Salah satu kendala yang sering dijumpai ialah siswa yang ribut. Mereka tak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru di depan. Mereka sibuk sendiri. Biasanya mereka berbicara dengan teman yang ada di kanan dan kiri. Biasanya pula mereka bermain suatu permainan.

Peserta didik tidak dalam kondisi jenuh

Dalam suatu pendidikan ada beberapa cara agar proses belajar itu sendiri tidak membosankan bagi siswa :
1. Pemilihan metode yang tepat
2. Pemilihan media yang tepat
3. Mengadakan simulasi-simulasi
4. Lakukan kegiatan belajar-mengajar di OUTDOOR
5. Pendekatan terhadap siswa

Tehnik-tehnik pembelajaran :

a) pembelajar auditory
b) pembelajar visual

Makna Tarbawi

a) Bahwa kita sebagai pendidik harus mengetahui keadaan kelas secara tepat disaat menyampaikan materi.
b) Kita selaku pendidik harus mengerti kondisi psikologis serta mental peserta didik, hal ini berfungsi juga sebagai indikator tingkat kemampuan peserta didik menerima materi secara penuh.



DAFTAR PUSTAKA

Idris, Zahara. 1992. Pengantar Pendidikan 1. Jakarta: Rasindo.
Tanlain, Wens. 2006. Modul Mata Kuliah Pengantar Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Zainuddin, Ahmad. 2010. Maktabah Al Syamilah. Saudi Arabia : Perpustakaan Arab Digital pada bagian Syarah AnNawawi.
Situs web :
13-tips-atasi-siswa-gaduh-di-dalam-kelas-574873.html.
5-jurus-jitu-agar-siswa-tidak-jenuhbosan-belajar-di-kelas-536954.html.


Minggu, 27 Desember 2015

Makalah Psikologi Agama (Ruang Lingkup Psikologi Agama)

Bagi anda yang ingin mempunyai filenya, silahkan download!.


Baca Makalah Lain:




Makalah Psikologi Agama (Ruang Lingkup Psikologi Agama)

Makalah Psikologi Agama (Ruang Lingkup Psikologi Agama)


BAB I
PENDAHULUAN

Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. 

Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuhan akan beragama tertanam dalam dirinya. 

Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya.

Dalam hal ini dapat dipahami yang di maksud dengan ilmu psikologi ialah Psikologi berasal dari perkataan yunani psyce yang artinya jiwa, dan logos yang artinya ilmu. Jadi secara etimologi psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya ( ilmu jiwa ). Secara umum, psikologi diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau ilmu yang mempelajari gejala-gejala jiwa manusia.

Sedangkan yang dimaksud psikologi agam adalah Psikologi agama terdiri dari dua paduan kata, yakni psikologi dan agama. Kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab.


BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Psikologi Agama

Psikologi agama terdiri dari dua kata yaitu psikologi dan agama. Yang dimaksud psikologi itu sendiri ialah sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. Sedangkan menurut Roberth H. Thouless, psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia.  Psikologi juga biasa disebut dengan ilmu jiwa yang membahas berbagai keadaan jiwa dan juga meneliti kehidupan mental, baik yang disadari, maupun yang tidak disadari dengan semua gejala lahir dan batin. 

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa psikologi ialah ilmu yang meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang ada dibelakangnya. Karena jiwa itu sendri bersifat abstrak maka untuk mempelajari kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak, yaitu tingkah laku yang di tampilkannya.

Agama yang menyangkut dengan masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia. Agama sebagai bentuk kayakinan memang sulit di ukur secara tepat dan rinci. Hal ini pula barangkali yang menyulitkan para ilmu untuk memberikan definisi yang tepat tentang agama. Menurut Harun Nasution  pengertian agama berdasarkan asal kata al-din, religi (relege, rellage) dan agama. Al-din berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Ada yang mengatakan dalam bahasa sansekerta kata agama berasal dari dua suku kata yaitu suku A dan suku GAMA. Pertama bermakna “tidak” dan yang kedua bermakna “kacau” jadi disatukan berarti Tidak Kacau. Arti ini dapat dipahami dengan kalimat hasil-hasil yang diberikan oleh peraturan-peraturan sesuatu agama terhadap moril dan materil, pemeluknya, seperti yang di akaui oleh masyarakat umum yang mempunyai pengetahuan. 

Psikologi agama menurut Prof. Dr. Zakiah Derajat yakni meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.  Disamping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor – faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut. 

Ilmu jiwa agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berfikir, bersikap, bereaksi dan bertingkahlaku, tidak dapat  dipisahkan dari keyakinannya. Karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadianya.  Betapapun macam definisi agama yang diberikan oleh para ahli namun bagi kita yang penting adalah agama yang dirasakan dengan hati, pikiran dan dilaksanakan dalam tindakan serta memantul dalam sikap dan cara menghadapi hidup pada umumnya atau dengan ringkas yang kita teliti adalah proses kejiwaaan terhadap agama dan pengaruhnya dalam jidup pada umumnya. 

Jadi secara ringkas dapat kita simpulkan bahwa psikologi agama atau ilmu jiwa agama menjelaskan pekerjaan pikiran dan perasaan seseorang terhadap agama, baik ia orang yang tahu beragama, acuh tak acuh, atau anti agama, yang berarti bahwa yang diungkapkan dan dijelaskan adalah proses mental orang tersebut sebagaimana dalam ilmu jiwa pada umumnya. 

B. Ruang Lingkup Psikologi Agama

Berkaitan dengan ruang lingkup dari psikologi agama, maka ruang kajiannya adalah mencakup kesadaran agama yang berarti bagian atau segi agama yang hadir dalam pikiran, yang merupakan aspek mental dari aktivitas agama, dan pengalaman agama berarti unsur perasaan dalam kesadaran beragama yakni perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah) dengan kata lain bahwa psikologi agama mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindakan agama orang itu dalam hidupnya. 

Dalam hal ini psikologi agama telah dimanfaatkan dalam berbagai ruang kehidupan, misalnya dalam bidang pendidikan, perusahaan, pengobatan, penyuluhan narapidana di LP dan pada bidang- bidang lainnya.

 Disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama lainnya. Pernyataan Robert Thouless, memusatkan kajiannya pada agama agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan menggunakan pendekatan psikologi. 

Menurut Prof. Dr. Zakiyah Daradjat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencangkup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan  akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama yang dianut). Oleh karena itu menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama mengenai:

1. Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut serta dalam kehidupan beragama orang biasa ( umum ). Contoh : perasaan tenang, pasrah dan menyerah.
2. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya. Contohnya: kelegaan batin.
3. Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati/ akhirat pada tiap-tiap orang.
4. Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut  memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5. Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci kelegaan batinya.

C. Fungsi Psikologi agama

Setelah mengetahui ruanglingkup dan dasar-dasar psikologi agama, maka marilah kita belajar memahami tugas dari psikologi agama yang memiliki fungsi:
1.      Menerangkan prilaku yang menyimpang pada diri manusia sesuai dengan syariat
2.      Memprediksi tingkah laku pada manusia sesuai dengan syariat
3.      Mengontrol prilaku yang dilakukan manusia agar tidak terjadi penyimpangan
4.      Mengarahkan manusia untuk mencapai ridho Allah SWT. 
Dengan demikian kehadiran psikologi agama dipenuhi dengan suatu misi besar. Yaitu menyelamatkan manusia dan mengantarkan manusia untuk memenuhi kecendrungan alaminya untuk kembali pada allah dan mendapatkan ridha allah SWT. Karena tugas final psikologi agama itu menyelamatkan manusia, maka psikologi harus memanfaatkan ajaran-ajaran agama.

D. Tujuan Psikologi Agama

Psikologi agama memiliki beberapa tujuan yaitu:
1.        Psikologi agama untuk kesejahtraan seluruh umat 
2.        Memprediksi prilaku manusia, mengontrol, dan mengarahkan prilaku
3.        Membangun ilmu dengan visi agama
4.        Agama sebagai dasar pembentukan ilmu

Psikologi islam disusun dengan memakai al-quran sebagai acuan utamanya. Sementara al-quran sendiri diturunkan bukan semata-mata untuk kebaikan umat islam, tetapi untuk kebaikan umat manusia seluruhnya. Ada dua alasan mendasar mengapa kita perlu menghadirkan psikologi islami atau psikologi agama. Alasan yang paling utama adalah karena islam mempunyai pendangan-pandangan sendiri tentang manusia. Al-quran, sumber utama agama islam, adalah kitab petunjuk, didalamnya banyak terdapat rahasia mengenai manusia. Allah sebagai pencipta manusia, tentu tahu secara nyata dan pasti tentang siapa manusia. Lewat al-quran, allah memberitahukan rahasia-rahasia tentang manusia. Karenanya, kalau kita ingin tahu manusia lebih nyata dan sungguh-sungguh, maka al-quran adalah sumber yang selayaknya dijadikan acuan utama.


Kesimpulan

Psikologi ialah ilmu yang meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang ada dibelakangnya. Karena jiwa itu sendri bersifat abstrak maka untuk mempelajari kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak, yaitu tingkah laku yang di tampilkannya.Sedangkan Menurut Harun Nasution  pengertian agama berdasarkan asala kata al-din, religi (relege, rellage) dan agama. Al-din berarti undang-undanag atau hukum. Kemudian dalam bahasa arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan.

Secara ringkas dapat kita simpulkan bahwa psikologi agama atau ilmu jiwa agama menjelaskan pekerjaan pikiran dan perasaan seseorang terhadap agama, baik ia orang yang tahu beragama, acuh tak acuh, atau anti agama, yang berarti bahwa yang diungkapkan dan dijelaskan adalah proses mental orang tersebut sebagaimana dalam ilmu jiwa pada umumnya.


Daftar Pustaka


Aziz, Abdul. 1976. Ilmu Jiwa. Jakarta: Bulan Bintang.
Daradjat, Zakiah. 1970. Ilmu Jiwa. Jakarta: Bulan Bintang.
Jalaluddin, 1998. Psikologi Agama.Jakarta: Pt. Rajagrafindo Persada.
Arifin, Zainal. 1984. Perkembangan Pikiran Terhadap Agama. Jakarta: Pustaka Al Husna.
http://adenurhidayah.blogspot.com/2012/04/makalah-pengertian-psikologi-agama.html

Makalah Sejarah Indonesia (Kerajaan Mataram Kuno)

Bagi anda yang ingin mempunyai filenya, silahkan download!.


Baca Makalah Lain:




Makalah Sejarah Indonesia (Kerajaan Mataram Kuno)

Makalah Sejarah Indonesia (Kerajaan Mataram Kuno)

BAB II
PEMBAHASAN

A. Asal-Usul Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram kita kenal dari sebuah prasasti yang ditemukan desa canggal (barat daya Magelang). Prasasti ini berangka tahun 732 m, ditulis dengan huruf Pallawa dan diubah dalam bahasa Sanskerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang ciwa) di datas sebuah bukit di daerah Kunjarakunta oleh Raja Sanjaya. Daerah ini letaknya di sebuah pulau yang mulia, yawadwipa, yang kaya akan hasil bumi, terutama padi dan emas. 

Istilah Wangsa Sanjaya diperkenalkan oleh sejarawan bernama Dr. Bosch dalam karangannya yang berjudul Sriwijaya, De Sailendrawamsa En De Sanjayawamsa (1952). Ia menyebutkan bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua dinasti yang berkuasa, yaitu Dinasti Sanjaya dan Sailendra.

Nama Wangsa Sanjaya di lihat dari nama pendiri kerajaan Medang, yaitu Sanjaya yang memerintah tahun 732 M. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa. Raja selanjutnya adalah Rakai Panangkaran yang dikalahkan oleh Wangsa Sailendra. Pada tahun 778 m raja Sailendra yang beragama Budha aliran Mahayana memerintah Rakai Panangkaran untuk mendirikan candi Kalasan. Sejak saat itu kerajaan Medang dikuasai oleh Wangsa Sailendra. Sampai akhirnya seorang putri mahkota Sailendra yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan, keturunan Sanjaya pada tahun 840-an. Rakai Pikatan kemudian mewarisi takhta mertuanya. Dengan demikian, Wangsa Sanjaya kembali berkuasa di Medang.  

Kerajaan Mataram Kuno atau disebut dengan Bhumi Mataram. Pada awalnya terletak di Jawa Tengah. Kerajaan ini sering disebut dengan Kerajaan Mataram Kuna sebagai pembeda dengan Mataram Baru atau Kesultanan Mataram (Islam). Kerajaan Mataram merupakan daerah yang subur yang memudahkan terjadinya pertumbuhan penduduk yang  cukup pesat dan merupakan kekuatan utama bagi Negara darat. 

Kerajaan Mataram berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung.


B. Wangsa Sanjaya (732 M)
1. Sejarah dan Lokasi
Prabu Harisdarma seorang raja dari Kerajaan Sunda. Ia juga merupakan penerus  Kerajaan Galuh yang sah. Ayahnya bernama Bratasenawa yang merupakan raja ketiga Kerajaan Galuh. Saat pemerintahan Bratasenawa pada tahun 716 M, Kerajaan Galuh dikudeta oleh Purbasora. Purbasora dan Bratasena adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah.  Bratasenawa beserta keluarga melarikan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta bantuan pada Tarusbawa. Tarusbawa sendiri adalah teman dekat Prabu Harisdarma sendiri adalah suami dari cucu Tarusbawa.

Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh menyerang Purbasora yang saat itu menguasai Kerajaan Galuh dengan bantuan dari Tarusbawa dan berhasil melengserkannya. Prabu Harisdarma pun menjadi raja Kerajaan Sunda Galuh. Prabu Harisdarma yang juga ahli waris dari Kalingga, kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram dan dikenal dengan nama Sanjaya pada tahun 732 M. Sanjaya atau Prabu Harisdarma, raja kedua Kerajaan Sunda (723-732 M), menjadi raja Kerajaan Mataram (Hindu) (732-760 M). ia adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.

Sanjaya adalah seorang raja yang ahli dalam kitab-kitab suci dan dalam keprajuritan. Ia menaklukkan berbagai daerah di sekitar kerajaannya, dan menciptakan ketentraman serta kemakmuran yang dapat dinikmati oleh rakyatnya. 

2.  Sumber Sejarah

1) Prasasti Canggal

Prasasti yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggal berangka Tahun 732 M dalam bentuk Candrasangkala. Menggunakan huruf pallawa dan bahasa sangsekerta. Isi dari prasasti tersebut menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Syiwa) yang merupakan agama Hindu beraliran Siwa di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya serta menceritakan bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah sena yang kemudian digantikan oleh Sanjaya.  

2) Prasasti Metyasih/Balitung

Prasasti ini ditemukan di desa Kedu, berangka tahun 907 M.  Prasasti Metyasih yang diterbitkan oleh Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) terbuat dari tembaga.. Prasasti ini dikeluarkan sehubungan dengan pemberian hadiah tanah kepada lima orang patihnya di Metyasih, karena telah berjasa besar terhadap Kerajaan serta memuat nama para raja-raja Mataram Kuno.

3.   Kehidupan Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya

Adapun kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya, dan budaya di kerajaan mataram kuno.
Ekonomi Sosial Budaya
1.    Pertanian
2.    Berternak
3.    Perdagangan (terdapat pasar berdasarkan penaggalan jawa)
4.    Kerajinan rumah tangga
5.    Perdagangan internasional 1.    Kehidupan sudah teratur
2.    Terdapat orang asing yang menetap, dan membayar pajak seperti warga pribumi (walaupun berbeda jumlahnya)
3.    Kediaman keluarga istana terpisah dengan para hamba, dan dipisah tembok dengan rakyat
4.    Mengenal adanya buruh dan budak 

Dari prasasti Metyasih tersebut, didapatkan nama-nama raja dari Wangsa Sanjaya yang pernah berkuasa, yaitu :
1)     Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760 M) 
2)     Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M) 
3)     Sri Maharaja Rakai Panaggalan (780-800 M)
4)     Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M)
5)     Sri Maharaja Rakai Garung  (820-840 M)
6)     Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856 M) 
7)     Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856 – 882 M)
8)     Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882 – 899 M)
9)     Sri Maharaja Watukumara Dyah Balitung (898 – 915 M) 
10)  Sri Maharaja Rakai Daksottama (915 – 919 M)
11)  Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 – 921 M) 
12)  Sri Maharaja Dyah Wawa ( 921 – 928 M) 
13)  Sri Maharaja Rakai Empu Sendok (929 – 930 M).  [6]

4.  Keruntuhan Wangsa Sanjaya

Pada abad ke-10, Dyah Wawa mempersiapkan strategi sukses Empu Sendok yang memiliki integritas dan moralitas sebagai calon pemimpin Mataram. Pada saat itulah pemerintahan Dyah Wawa mengalami kemunduran. Empu Sendok yang memegang pemerintahan setelah Dyah Wawa meninggal merasa khawatir terhadap serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Empu Sendok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sumber lain menyebutkan perpindahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur disebabkan oleh meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah.

C.     Wangsa Syailendra (752 M) 

1. Sejarah dan Lokasi
Syailendra adalah wangsa atau dinasti Kerajaan Mataram Kuno yang beragama Budha. Wangsa Syailendra di Medang, daerah Jawa Tengah bagian selatan. Wangsa ini berkuasa sejak tahun 752 M dan hidup berdampingan dengan Wangsa Sanjaya.
2. Sumber Sejarah
Nama Syailendra pertama kali dijumpai dalam Prasasti Kalasan yang berangka tahun 778 M. Ada beberapa sumber yang menyebutkan asal-usul keluarga Syailendra, Yaitu :
1) Sumber India
Nilakanta Sastri dan Moes yang berasal dari India dan menetap di Palembang menyatakah bahwa pada tahun 683 M keluarga Syailendra melarikan diri ke Jawa karena terdesak oleh Dapunta Hyan.
2) Sumber Funan

Codes beranggapan bahwa Syailendra yang ada di Nusantara berasal dari Funan (Kamboja). Kerusuhan yang terjadi di Funan mengakibatkan keluarga Kerajaan Funan menyingkir ke Jawa dan menjadi penguasa di Mataram pada abad ke-8 M dengan menggunakan nama Syailendra.
3) Sumber Jawa

Menurut Purbatjaraka, Keluarga Syailendra adalah keturunan dari Wangsa Sanjaya di era pemerintahan Rakai Panangkaran. Raja-raja dari keluarga Sayilendra adalah asli dari Nusantara sejak Rakai Panangkaran berpindah agama menjadi penganut agama Budha Mahayana. Pendapatnya tersebut berdasarkan Carita Parahiyangan yang menyebutkan bahwa Sanjaya menyerahkan kekuasaanya di Jawa Barat kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu Rakai Tamperan atau Rakeyan Panambaran dan memintanya untuk berpindah agama. 

Selain dari teori tersebut di atas dapat dilihat dari beberapa Prasasti yang ditemukan, Yaitu :
1) Prasasti Sojomerto

Prasasti yang berasal dari pertengahan abad ke-7 itu berbahasa Melayu Kuno di desa Sojomerto, Kabupaten Pekalongan yang menjelaskan bahwa Dapunta Syailendra adalah penganut agama Siwa.


2) Prasasti Kalasan

Prasasti yang berangka tahun 778 M merupakan prasasti peninggala Wangsa Sanjaya. Prasasti ini menceritakan tentang pendirian Candi Kalasan oleh Rakai Panagkaran atas permintaan keluarga Syailendra serta sebagai penghadiahan desa Kalasan untuk umat Budha.
3) Prasasti Klurak

Prasasti yang berangka tahun 782 M, di daerah Prambanan menyebutkan tentang pembuatan Arca Manjusri yang merupakan perwujudan Sang Budha, Wisnu dan Sanggha. Prasasti ini juga menyebutkan nama raja yang berkuasa saat itu yang bernama Raja Indra.

4) Prasasti Ratu Boko 

Prasasti berangka tahun 865 M menyebutkan tentang kekalahan Raja Balaputra Dewa dalam perang saudara melawan kakaknya Pradhowardhani dan melarikan diri ke Palembang.

3.   Kehidupan Ekonomi, Sosial dan Politik

Kehidupan sosial Kerajaan Mataram Dinasti Syailendra ditafsirkan telah teratur. Hal ini dilihat dari pembuatan Candi yang menggunakan tenaga rakyat secara bergotong royong. Dari segi budaya Kerajaan Dinasti Syailendra juga banyak meninggalkan bangunan-bangunan megah dan bernilai.
Adapun Raja-raja yang pernah berkuasa, yaitu : 
1)     Bhanu (752 – 775 M)
2)     Wisnu (775 – 782 M)
3)     Indra (782 – 812 M)
4)     Samaratungga ( 812 – 833 M)
5)     Pramodhawardhani (883 – 856 M)
6)     Balaputera Dewa (883 – 850 M)


4.  Keruntuhan Wangsa Syailendra
Sejak terjadi perebutan kekuasaan dan dipimpin oleh Rakai Pikatan, agama Hindu mulai dominan menggantikan agama Budha. Sejak saat itulah berakhirnya masa Wangsa Syailendra di Bumi Mataram.  
Dari kedua Wangsa yang berkuasa di Bhumi Mataram tersebut, sampai saat ini masih dapat dilihat bangunan-bangunan suci yang berbentuk, yaitu : Candi di pegunungan Dieng, Candi Gedung Songo, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, Candi Sambi Sari dan lain-lain. 

D.     Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno

Adapun penyebab dari keruntuhan mataram kuno adalah sebagai berikut:

a.      Akibat letusan gunung merapi pada tahun 1006 M. Sehingga menghancurkan kerajaan mataram kuno, letusan itu juga melongsorkan tubuh merapi sehingga sebagian tubuh merapi lengser dan membentuk pervukitan gendol atau bukit wukir. Letusan itu disebut mahapralaya atau pralaya yang berarti kehancuran besar. 
b.      Terjadinya krisis politik pada tahun 927-929 M
c.      Runtuhnya kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di jawa tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak ada pelabuhan strategis. Sementra di jawa timur, merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan. 

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Asal usul Kerajaan Mataram Kuno

istilah Wangsa Sanjaya diperkenalkan oleh sejarawan bernama Dr. Bosch dalam karangannya yang berjudul Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952). Ia menyebutkan bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua dinasti yang berkuasa, yaitu dinasti Sanjaya dan Sailendra.

Istilah Wangsa Sanjaya merujuk kepada nama pendiri Kerajaan Medang, yaitu Sanjaya yang memerintah sekitar tahun 732. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjaradari di daerah India.Raja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran yang dikalahkan oleh dinasti lain bernama Wangsa Sailendra. Pada tahun 778 raja Sailendra yang beragama Buddha aliran Mahayana memerintah Rakai Panangkaran untuk mendirikan Candi Kalasan. Sejak saat itu Kerajaan Medang dikuasai oleh Wangsa Sailendra. Sampai akhirnya seorang putri mahkota Sailendra yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan, seorang keturunan Sanjaya, pada tahun 840–an. Rakai Pikatan kemudian mewarisi takhta mertuanya. Dengan demikian, Wangsa Sanjaya kembali berkuasa di Medang.

2. Keruntuhan Mataram Kuno

Adapun penyebab dari keruntuhan mataram kuno adalah sebagai berikut:
1)    Akibat letusan gunung merapi pada tahun 1006 M. Sehingga menghancurkan kerajaan Mataram Kuno, letusan itu juga melongsorkan tubuh merapi sehingga sebagian tubuh merapi lengser dan membentuk Perbukitan Gendol atau Bukit Wukir. Letusan itu disebut Mahapralaya atau Pralaya yang berarti kehancuran besar. 
2)    Terjadinya krisis politik pada tahun 927-929 M
3)    Runtuhnya kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak ada pelabuhan strategis. Sementara di Jawa Timur, merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan. 


DAFTAR PUSTAKA

Badrika, Wayan. 2004.  Sejarah Nasional Indonesia dan Umum. Jakarta: Erlangga. 
http://hqamru.wordpress.com/2008/04/23/seputar-keruntuhan-kerajaan-mataram-hindu-kuno/). Diakses 15 oktober 2011
http://www.niamblog.com/sejarah-kerajaan-mataram-kuno/ diakses 15 oktober 2011
http://riefjournal.blogspot.com/2010/02/asal-usul-kerajaan-mataram-kuno.html diakses 15 oktober 2011
Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia II. Jakarta: Kanisius.
Suhadi, Machi. Dkk. 2007.  Ilmu pengetahuan sosial sejarah. jakarta: erlangga.